AEC is a THREAT or OPPORTUNITY?

ASEAN DAY

By GC – Aug 08, 2018
  Masyarakat Ekonomi ASEAN? Siapa takut? Begitu kira-kira ungkapan salah seorang mahasiswa ketika saya menanyakan apakah Masyarakat Ekonomi ASEAN ini menjadi tantangan atau kesempatan untuk bangsa Indonesia? Waktu itu MEA baru saja dideklarasikan pada tanggal 31 Des 2015 Lalu pertanyaan saya berikutnya adalah… Tahukah apa yang dimaksud dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN? Kira-kira apa dampaknya bagi kita semua? Semuanya diam… bisa jadi mereka tidak tahu…. Atau bisa jadi mereka TAKUT menjawab salah…. Padahal ada satu hal esensial yang perlu disadari oleh seluruh orang Indonesia… Ketika kita tahu dan kita siap maka sekalipun itu Ancaman (Threat)… Itu akan menjadi kesempatan buat kita. (Opportunity) Baiklah kita mengkaji lagi apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)? Apa tujuannya dan apa kesepakatan yang sudah dicapai hingga saat ini… MEA adalah kesepakatan di antara negara-negara ASEAN untuk menjadikan ASEAN sebagai “SINGLE MARKET” dan basis produksi, Economic Region yang kompetitif, Membangun ekonomi yang adil dan integrasi dengan ekonomi global. Bagi yang mau tahu lebih banyak silahkan lihat AECs Blue Print di link ini. *The rise of Non-tariff Barrier* Kalau kita perhatikan apa yang terjadi setelah kesepakatan MEA ditandatangani, terutama mengacu kepada point A1. No. 13, Elimination of Tariffs. Maka demi melindungi pasarnya sekarang ini semua negara-negara ASEAN meningkatkan bariernya. 1. ASEAN Harmonization yang seyogyanya merupakan langkah menciptakan satu kemasan untuk Kawasan ASEAN menyepakati satu hal. Untuk tidak bersepakat mengharmonisasi kemasan. Malahan sekarang ini banyak negara belajar bagaimana membuat aturan yang ribet untuk menahan produk dari negara tetangganya masuk ke dalam teritorinya. Salah satunya adalah menggunakan “bahasa lokal” di dalam kemasan. 2. Standardisasi Mutu. Dulu ketika kita mempunyai mutu yang sudah lolos dari departemen terkait di negara kita. Maka biasanya otoritas negara lain, tidak terlalu memusingkan masalah standard mutu ini. Kini … bukan hanya mereka cek produk kita pada saat pendaftaran saja. Tapi setiap kali kita kirim produk, bisa jadi produk kita akan diperiksa di lab dan bila tidak sesuai (menurut standard mereka, menurut metode pemeriksaan mereka yang kadang sangat berbeda dan kadang tidak lazim) maka produk kita ditolak masuk. Belom lagi karena keterbatasan laboratorium mereka maka backlog yang panjang mengakibat penundaan produk kita di karantina dan otomatis hal ini meningkatkan biaya yang lumayan tinggi, plus produk kita lama baru bisa di klaim yang bisa jadi membuat produk kita kosong dipasaran dan merugikan secara ekonomi. Padahal kalau kita perhatikan di pasal 4 di situ tertera dengan kasat mata: Elimination of Non-Tariff Barriers…. Tapi sepertinya hal ini masih jauh dari harapan. Belum lagi kita melihat pasal A5. Free Flow of Skilled Labour. Pertanyaan berikutnya adalah sudah siapkah kita berkompetisi dengan orang Singapore, Malaysia, Philippines yang mempunyai sistem Pendidikan yang jauh lebih baik dari negara kita? Apakah kita akan memanfaatkan MEA ini untuk berekspansi ke negara-negara tetangga yang semakin hari memuluskan rencana AECs ini, bekerja disana atau menanam modal disana? Atau Indonesia justru akan dimanfaatkan oleh negara lain? Sebagai negara yang potensial dengan penduduk lebih dari 230 juta jiwa? Dan dengan orang-orang yang… tidak siap bahkan ada yang masih tidak mengetahui apa itu MEA? Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh bertahan dalam situasi sulit. Kita perlu terus membuka wawasan kita demi meningkatkan resiliensi bagsa kita di tengah persaingan dagang yang makin ketat dan makin hebat. Yuk mari… pelajari baik-baik kesepakatan MEA di atas…. Mulailah berpikir… untuk memanfaatkannya, jadikan MEA sebagai kesempatan bukan sebagai ancaman bagi kita. _“Challenges can be threats or opportunities, it pretty much depends on how you prepare yourself to deal with that challenges.”_ GC Have a GREAT Day! GC
Chat Akademiku